Tiga Komandan

Tiga Komandan Islam
Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah Saw. mengutus Harits bin Umair Al-Azdy untuk mengirimkan surat beliau kepada raja Bushra. Dalam surat itu, beliau mengajaknya masuk Islam. Sesampainya du Mu'tah, sebelah timur Yordan, Syurahbil bin Amr menangkap Harits serta membunuhnya. Syurahbil adalah seorang pembesar Bani Ghassan.

Kejadian itu membuat Rasulullah Saw. sangat marah. Sebenarnya, seorang utusan tidak boleh dibunuh. Karena itu, Rasulullah Saw. menyiapkan tiga ribu tentara untuk memerangi Mu'tah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan.

"Jika Zaid gugur, pimpinan harus digantikan oleh Ja'far bin Abi Thalib. Jika ia juga gugur, pimpinan harus diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. jika Abdullah juga gugur, pilihlah salah seorang dari kaum Muslimin diantara kalian untuk menjadi pemimpin." Demikian pesan Rasulullah Saw.

Ada tiga komandan yang ditunjuk Rasulullah Saw. dalam perang Mu'tah.

1. Zaid bin Haritsah

Zaid merupakan anak angkat kesayangan Rasulullah Saw. Asalnya, Zaid adalah budak milik Khadijah, istri Rasulullah Saw. Khadijah mendapatkan Zaid sebagai hadiah dari kemenakannya,  Hakam bin Hazam bin Khuwalid. Lalu, khadijah menghadiahkan Zaid kepada suaminya, Muhammad Saw.
Zaid adalah orang pertama yang beriman dari kalangan hamba sahaya. Dia merupakan orang yang dipercaya memegang rahasia Rasulullah Saw. Dia pun diangkat Rasulullah Saw. menjadi pemimpin pasukan yang dikirim Rasulullah Saw. Apabil bepergian ke luat kora untuk berperang atau yang lainnya. Zaid ditunjuk sebagai wali kota Madinah.

2. Ja'far bin Abi Thalib

Ja'far merupakan anak Abu Thalib, paman Rasulullah Saw. Ja'far bersaudara kandung dengan Ali bin Abi Thalib. Istrinya bernama Asma' binti Umais, Seorang wanita sabar dan tegar. Ja'far berhijrah dua kali, yaitu ke Habasyah dan ke Madinah.

Saat di Habasyah, Ja'far menjadi juru bicara kaum Muslimin ketika berhadapan dengan dua orang tokoh Qurasy didepan Raja Habasyah, Najasy. Ja'far kembali ke Madinah dari Habasyah sesaat setelah Rasulullah Saw. dan para sahabat berhasil merebut khaibar dari kaum Yahudi.

Ja'far juga dikenal senang menjamu tamu dan senang kepada fakit miskin. Oleh karena itu, dia terkenal dengan sebutan "Abdul Masakin" (Bapaknya Orang-orang Miskin).

3. Abdullah bin Rawahah

Abdullah berasal dari Kabilah Khazraj yang termasuk kaum Anshar. Dia senantiasa mengikuti peperangan bersama Rasulullah Saw. Abdullah termasuk penyai yang senang menghadiri atau mengajak orang untuk mengadakan majelis ilmu dan dzikir.
Abu Darda' berkata tentang Abdullah bin Rawahah, "Kami bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan pada musim panas menyengat. Tidak ada diantara kami yang kuat berpuasa, kecuali Rasulullah Saw. dan Abdullah bin Rawahah." Dengan demikian, Abdullah merupakan Sahabat yang masyhur dan agung.

***

Maka, berangkatlah pasukan Muslimin sampai di Ma'an sebelah timur Yordan. Sampai disana, ternyata Heraclius, penguasa Romawi, telah menunggu dengan seratus ribu tentara musyrikin Arab ditambah pasukannya sendiri. Jumlah pasukan yang besar itu berkumpul tidak jauh dari posisi pasukan Muslimin.

Pasukan Muslimin bermalam di Ma'an selama dua malam. Mereka memusyawarahkan kebijakan yang harus mereka ambil. Ada yanga mengusulkan supaya menulis surat kepada Rasulullah, melaporkan situasi jumlah musuh, serta menunggu perintah selanjutnya.

Yang lain mengatakan, "Demi Allah, kita tidak banyak berperang karena mengandalkan kekuatan senjata dan jumlah banyak. kita berperang demi agama ini. Karena itu, maju terus seperti rencana semula. Allah telah menjamin bagi kita salah satu dari dua keuntungan, menang perang atau mati syahid."

Akhirnya, bertemulah kedua pasukan di Mut'ah. Pasukan Muslimin berperang dengan semangat membara. Hal itu mencengangkan tentara Romawi dan menyebabkan mereka ketakutan. Tiga ribu tentara Muslimin menghadapi dua ratus ribu musuh, bisa dibayangkan!

Zaid bin Haritsah bertempur seraya mempertahankan bendera Rasulullah Saw. dengan semangat dan keberanian yang tak ada bandingannya dalam sejarah kepahlawanan. Sampai-sampa, tubuhnya remuk terkena seratus anak panah. Zaid gugur. Dia Syahid menemui Allah sambil mengibarkan bendera Rasulullah Saw.

Bendera komando segera diambil Ja'far bin Abi Thalib sebagai komandan pengganti Zaid. Ja'far melompat dari kudanya, lalu menyembelih kuda itu agar tidak bisa dimanfa'atkan oleh musuh.

Ja'far bertarung dengan tangan kirinya dan mengibarkan bendera dengan tangan kanannya. Ketika tangan kanannya terpotong, dia memegang dengan tangan kiri. Ketika tangan kirinya juga terputus, di mendekap panji perang dengan lengan atas yang masih tersisa. Akhirnya, dia pun gugur.

Sebelum terbunuh, dia sempat bersenandung.

"Betapa indahnya ... kini surga sudah terasa dekat

Minumannya sungguh nikmat dan menyegarkan

Wahai kalian tentara Romawi ...

Azab bagi kalian sudah semakin dekat

Kalian orang kafir

Yang sangat jauh nasabnya dari kami, Orang Beriman

Aku sendiri yang akan membunuh kalian

Jika aku berhadapan dengan kalian."

Kelak, Rasulullah Saw. memberi gelar "Dzul Janahain" (Pemilik Dua Sayap) pada Abu Ja'far atau "Ath-Thayyar" (Yang Bisa Terbang). Mengapa Rasulullah Saw. memberi gelar seperti itu? karena Allah Swt. telah menggantik kedua tangannya yang terpotong dengan dua sayap. Dengan sayap, dia bisa terbang sesukanya disurga dan kemana pun.

Kemudian, Ibnu Rawahah segera maju untuk mengambil bendera komando. Ketika itu, dia berpikir untuk menarik mundur pasukan Muslimin karena keadaan sudah sangat sulit. Akan tetapi, setelah itu dia segera maju kemedan pertempuran.

Dan dalam waktu relatif singkat dan tidak disangka-sangka Abdullah pu terbunuh. Dia terkena anak panah musuh. Dia Syahid menyusul kedua sahabat yang mendahuluinya.

Pada pagi harinya, tiba-tiba Rasulullah Saw. memberitahukan kepada kaum Muslimin tentang orang-orang Syahid dalam pertempuran tersebut. Padahal, belum ada yang membawa berita dari medan perang.

Dalam mimpinya, Rasulullah saw. melihat Zaid, Ja'far, dan Ibnu Rawahah diangkat oleh Allah Swt. keatas ranjang-ranjang emas didalam surga. Akan tetapi,beliau melihat kalau ranjang Ibnu Rawahah beranjak mundur dari ranjang dua sahabatnya, Zaid dan Ja'far.

Nah, ketika pembawa berita datang, Rasulullah Saw. bertanya tentang Ibnu Rawaha kepadanya.

"Keduanya, Zaid dan Ja'far, maju dengan gagah berani. Sedangkan Ibnu Rawahah sedikit ragu-ragu, meskipun kemudian maju juga."


Kisah Menakjubkan Para Syuhada.
Fuad Abdurrahman.

Artikel Ensiklopedi Muslim Lainnya :

Scroll to top