Najiskah Minyak Wangi ?

Najiskah minyak wangi?

Seseorang pernah bertanya kepada A. Hassan mengenai hukum minyak wangi yang di terbitkan kedalam buku "Soal - Jawab A. Hassan".

Soal : 'Apakah hukum minyak wangi yang bercampur dengan Alkohol jika dipakai pada badan atau pakaian?'

Jawaban A. Hassan  : Arak atau Alkohol itu, menurut Al-qur'an dan hadiets, sudah pasti haram untuk diminum. Tetapi, didalam Al-qur'an dan hadiets, atau dari sahabat-sahabat tidak ada satupun keterangan yang menunjukan bahwa arak itu najis.

Memang ada tersebut dikebanyakan kitab-kitab fiqih muta-akhkhirin ('Ulama sesudah abad keIII atau th. ke 400 H) bahwa arak itu najis. Kalau kena kain atau badan, wajib dicuci; dan ada pula dongengan orang-orang madzhab Hanafi, bahwa tangan yang kena arak itu, mesti dipotong.

Itu semua hanyalah fikiran orang-orang yang menyangka, bahwa fikiran-fikirannya itu adalah hukum Agama. Boleh jadi mereka sangka, bahwa tiap-tiap yang haram itu hukumnya najis. Tetapi heran kita, mengapa mereka tidak hukumkan racun itu najis, sedangkan memakan racun itu hukumnya haram?

Ringkasnya :

  1. Arak itu haram untuk diminum. Kalau kita mau gunakan tempat minuman atau tempat makanan yang bekas arak, wajib dicuci dahulu, karena termakan bekas arak itu sama dengan meminumnya.
  2. Tidak ada satupun dalil Agama yang mengatakan, bahwa kain, baju atau badan kita, kalau kena arak, wajib dicuci. Lebih lagi tidak ada dalil yang mengatakan tidak shah shalat seseorang yang pakaiannya, badannya atau tempat shalatnya kena arak.
Kalau ada keterangan dari Allah atau RasulNya, mintalah kiyahi-kiyahi unjukkan.
                                                                                                                                                           A.H.

Itulah jawaban dari guru spiritual Presiden Soekarno, A. Hassan.  Kesimpulannya, yang namanya minyak wangi atau farpum itu tidaklah najis walaupun didalamnya terkandung alkohol. karena tidak ada dalil (keterangan dari al-quran dan hadits) yang menyatakan bahwa alkohol/arak itu najis sehingga tidak boleh terkena badan atau tempat shalat saat sedang shalat. Yang haram dimakan belum tentu  najis. Jika saja iya, kenapa kita tidak hukumkan racun najis, sementara racun itu haram?

Artikel Ensiklopedi Muslim Lainnya :

Scroll to top