Kisah Sang Raja dan Seorang Anak

Entah tahun berapa peristiwa ini terjadi. Namun yang jelas bukan Fir'aun dan Nabi Musa As. Kisahnya menarik dan banyak pelajaran yang dapat dipetik. Mengisahkan kemenangan tauhid atas syirik. Inilah kisahnya.

Katakanlah. Pada zaman dahulu seorang raja yang zalim dan kafir. Ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu lanjut usia, ia berkata kepada sang rajanya, "Wahai raja, usiaku telah tua. karena itu utuslah untukku seorang anak untuk mempelajari ilmu sihir."

Sang raja pun memahaminya. Tak lama kemudian, ia pun mengirim seorang anak laki-laki untuk meneruskan cita-cita tukang sihir. Selang beberapa waktu kemudian, sang anaku pun pergi hendak menemui tukan sihir. Namun, ditengah perjalanan ia bertemu dengan seorang Rahib. Ia tertarik dengan sang Rahib itu. Lalu ia pun duduk untuk mendengarkan nasihat-nasihat sang Rahib. Ia merasa jelas dan puas.

Hari pun berganti. Ketika sang anak itu hendak menemui tukang sihir, ia temui dulu sang Rahib. Tak terasa olehnya sehingga terlambat menemui tukang sihir. Marahlah tukang sihir itu hingga memukulinya.

Akhirnya si anak itu mengadukan permasalahannya kepada sang Rahib. "Kalau kamu dipukul oleh tukang sihir katakan kepadanya, bahwa kamu masih disuruh oleh keluargamu. Dan kalau kamu dimarahi ibumu, katakan kepadanya, bahwa kamu ditahan oleh tukang sihir, maka itu lebih baik bagimu." Nasihat sang Rahib kepada sang anak.

Jauh dari pada itu. Suatu hari ada seekor ular besar. Orang-orang merasa takut. Sang anak melihat kejadian itu. Lalu ia berkata, "Hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah yang paling benar ajarannya, ataukah sang Rahib."

Anak itu lalu mengambil sebuah batu dan melemparkannya kearah ular besar itu seray berkata. "Ya allah, jika ajaran sang Rahib itu benar daripada ajaran tukang sihir, maka matikanlah ular itu supaya orang-orang bisa berjalan dengan aman."

Maka ulah itu pun mati seketika. Orang-orang pun meneruskan perjalanannya dengan aman. Sang anak itu menemui sang Rahib dan menjelaskan duduk persoalan tentang ular yang ia lempar dengan batu tadi. "Wahai anakku, kini kamu lebih hebat dariku dan kamu akan mendapat ujian yang sangat berat, maka jika hal itu telah datang, janganlah kamu sekali-kali menyebut namaku." Tukas sang Rahib. 

Kelebihan sang anak itu tidak hanya dapat melempar ular besar hingga mati, tetapi diberi karunia dimana ia dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti buta, belang dan lain sebagainya. Diceritakan, salah seorang teman raja ada yang buta. Dan ia telah berobat kemana saja tetapi belum sembuh juga. Lalu ia datang kepada sang anak itu dengan membawa berbagai hadiah. "Jika kamu dapat menyembuhkan mataku ini, maka seluruh permintaanmu akan kupenuhi." Jelas teman raja kepada sang anak menjanjikan.

"Aku tidak dapat menyembuhkan." Kata sang anak dengan tegas. "Yang dapat menyembuhkan hanyalah allah. Jika tuan mau beriman kepada Allah, maka akan kudo'akan untuk kesembuhan tuan."  Jelas sang anak lebih lanjut.

Kemudian teman raja itu pun beriman kepada Allah. Maka sang anak itu berdo'a kepada Allah. Dan ternyata seketika itu pun mata teman raja sembuh.

Orang itu kemudian mendatangi raja. Ia duduk dihadapan raja sebagaimana biasa. Sang raja merasa kagum atas kesembuhan temannya itu. Lalu bertanya, "Siapakah gerangan yang telah menyembuhkan matamu ini?" Tanya sang raja. "Tuhanku, tuan."  Jawab orang itu. "Adakah Tuhan selain aku?" Sang raja menyusul. "Tuhanku dan Tuhan raja adalah Allah." Jawab orang itu kembali.

Mendengar hal ini sang raja menjadi berang dan memaksa agar ia meninggalkan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi permintaan itu ditolak. Raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya hingga ia menjelaskan bahwa yang menyembuhkannya adalah seorang anak laki-laki.

Raja lalu memanggil anak itu serayya berkata, "Wahai anakku, sihirmu telah melampaui batas hingga dapat menyembuhkan penyakit buta an belang," 

"Aku tidak dapat menyembuhkan apa-apa, sesungguhnya yang dapat menyembuhkan, hanyalah Allah." Jawabnya.
Raja pun melakukan seperti yang dilakukan kepada temannya. Ia menyiksa anak itu hingga akhirnya terpaksa menunjukkan sang Rahib. Lalu raja memanggil sang Rahib dan memerintahkan kepadanya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak. Dan akhirnya Rahib tewas digergaji hingga badannya terbelah menjadi dua.

Usaha raja tidak sampai disana. Ia kembali memanggil temannya itu dan melakukan seperti yang dilakukan kepada Rahib. Kemudian giliran si anak kembali untuk meninggalkan agamanya. Tetapi ia pun menolaknya. Raja yang zalim inipun penasaran. Ia lalu memerintahkan para tentaranya untuk membawa anak itu ke atas bukit. Dan kalau masih menolak, ia supaya dilemparkan. 

Mereka pun berangkat menuju bukit.  Sesampainya dibukit, anak itu berdo'a, "Ya Allah, peliharalah aku dari kejahatan orang-orang ini." Dan ternyata tiba-tiba bukit itu goncang. Dan para tentara raja pun akhirnya jatuh hingga mereka mati.
Anak itu pun kembali mencoba menemui raja. "Kemana para tentara yang tadi bersamamu?" Tanya raja. "Allah telah menyelamatkanku dari kejahatan mereka." Tukas si anak menjelaskan.

Sekali lagi raja penasaran.  Ia memanggil lagi para tentaranya untuk membawa anak itu ke tengah lautan. Dan bila masih menolak, agar dilemparkan anak itu kedasar laut. 

Mereka pun berangkat menuju lautan.  Sesampainya dilautan, anak itu berdo'a, "Ya Allah, peliharalah aku dari kejahatan orang-orang ini." Dan tiba-tiba datanglah ombak besar hingga perahu mereka tenggelam dan mati. Sementara si anak selamat.  

Anak itu pun kembali mencoba menemui raja. "Kemana para tentara yang tadi bersamamu?" Tanya raja. "Allah telah menyelamatkanku dari kejahatan mereka." Tukasnya. "Wahai raja, engkau tidak akan bisa membunuhku melainkan engkau mau menuruti perintahku." Jelas anak tadi. "Apakah perintahmu?" Tanya raja. "Kumpulkan seluruh rakyat di alun-alun, lalu saliblah aku pada sebuah tiang serta ambillah panahku dan panahlah sambil mengucapkan : "Bismillahi rabbil Ghulam (Dengan nama Allah tuhannya Ghulam). Pastilah engkau dapat membunuhku." Kata anak tersebut.

Maka segeralah raja mengumpulkan seluruh rakyatnya dialun-alun. Lalu ia menyalib anak itu pada sebuah tiang. Kemudian ia memanahnya dengan anak panah itu sambil membaca : "Bismillahir Rabbil Ghulam." Maka panah itu pun mengenai pelipis anak itu hingga mengucurkan darah segar hingga mati. 

Tiba-tiba seluruh rakyat yang menyaksikan kejadian itu serentak mengucapkan : "Amana bi Rabbil Ghulam (Kami beriman dengan Tuhannya Ghulam)". Akhirnya kepercayaan kepada Allah merata dikalangan mereka.

Salah seorang pembantu raja menceritakannya kepada raja. "Sesungguhnya yang sangat tuan takuti kini benar-benar terjadi, semua rakyat tuan telah beriman." Katanya.

 Maka segeralah raja mengambil tindakan dengan memerintahkan untuk membuat parit besar disetiap persimpangan jalan. Lalu dinyalakan api didalamnya. Dan diperintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk melemparkan kedalam api itu siapa saja yang telah beriman. Maka diantara orang-orang yang beriman itu terdapatlah seorang ibu yang masih menggendong anaknya. Ketika diperintahkan masuk kedalam api itu, ia ragu hingga maju mundur karena tak tega melihat anaknya ikut terbakat.

 Dalam kondisi demikian tiba-tiba anak yang digendongnya itu tadi dapat berbicara, "Wahai ibu, bersabarlah engkau karena engkau berada didalam kebenaran." Tegasnya.

Demikianlah kisah yang terambil dari hadits yang diriwayatkan Imam Muslim juz ke 8 halaman 229-231 yang bersumber dari Shuaib Ra, sebagai penjelasan firman Allah Swt surat al-Buruj 4-9. (Shafwatul Tafasir 3:541). Yang memberi arti bahwa nilai kebenaran harus dipertahankan kendati  harus mengorbankan jiwa sekali pun.

Risalah Jum'ah.
Persatuan Islam.

Sumber : Dokumentasi dan Perpustakaan PP Persis,



Artikel Ensiklopedi Muslim Lainnya :

Scroll to top